Selasa, 18 Januari 2011

PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK PRASEKOLAH

PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK PRASEKOLAH
Oleh : Ernawulan Syaodih

Pendahuluan
Perkembangan intelektual pada dasarnya berhubungan dengan konsep-konsep
yang dimiliki dan tindakan kognitif seseorang, oleh karenanya perkembangan kognitif
seringkali menjadi sinonim dengan perkembangan intelektual. Dalam proses
pembelajaran seringkali anak dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang menuntut
adanya pemecahan. Kegiatan itu mungkin dilakukan anak secara fisik, seperti mengamati
penampilan obyek yang berupa wujud atau karakteristik dari obyek tersebut. Tetapi
lebih lanjut anak dituntut untuk menanggapinya secara mental melalui kemampuan
berfikir, khususnya mengenai konsep, kaidah atau prinsip atas obyek masalah dan
pemecahannya. Ini berarti aktivitas dalam belajar tidak hanya menyangkut masalah fisik
semata, tetapi yang lebih penting adalah keterlibatannya secara mental yaitu aspek
kognitif yang berhubungan dengan fungsi intelektual.
Perkembangan kognitif menjadi sangat penting manakala anak akan dihadapkan
kepada persoalan-persoalan yang menuntut kemampuan berfikir. Masalah ini sering
menjadi pertimbangan mendasar di dalam membelajarkan mereka, khususnya yang
menyangkut isi atau kurikulum yang akan dipelajarinya.
Berkaitan dengan hal itu akan diungkapkan secara berturut-turut mengenai
pengertian-pengertian kognitif, proses perkembangan fungsi-fungsi kognitif, tahapan
perkembangan kognitif dan tinjauan perpindahan berfikir praoperasional ke operasional
konkrit

Pengertian Kognitif

Kognitif atau sering disebut kognisi mempunyai pengertian yang luas mengenai
berfikir dan mengamati. Ada yang mengartikan bahwa kognitif adalah tingkah lakutingkah
laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan
untuk menggunakan pengetahuan. Selain itu kognitif juga dipandang sebagai suatu
konsep yang luas dan inklusif yang mengacu kepada kegiatan mental yang terlibat di
dalam perolehan, pengolahan, organisasi dan penggunaan pengetahuan. Proses utama
yang digolongkan di bawah istilah kognisi mencakup : mendeteksi, menafsirkan,
mengelompokkan dan mengingat informasi; mengevaluasi gagasan, menyimpulkan
prinsip dan kaidah, mengkhayal kemungkinan, menghasilkan strategi dan berfantasi.
Bila disimpulkan maka kognisi dapat dipandang sebagai kemampuan yang
mencakup segala bentuk pengenalan, kesadaran, pengertian yang bersifat mental pada
diri individu yang digunakan dalam interaksinya antara kemampuan potensial dengan
lingkungan seperti : dalam aktivitas mengamati, menafsirkan memperkirakan,
mengingat, menilai dan lain-lain.
Proses kognitif penting dalam membentuk pengertian karena berhubungan
dengan proses mental dari fungsi intelektual. Hubungan kognisi dengan proses mental
disebut sebagai aspek kognitif.
Faktor kognitif memiliki pemahaman bahwa ciri khasnya terletak dalam belajar
memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili obyek-obyek
yang dihadapi dan dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau
lambang yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental. Dari pernyataan ini
dapat dikatakan bahwa makin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki seseorang,
makin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang tersebut. Lebih lanjut dapat
dijelaskan bahwa kognitif merupakan proses mental yang berhubungan dengan
kemampuan dalam bentuk pengenalan secara umum yang bersifat mental dan ditandai
dengan representasi suatu obyek ke dalam gambaran mental seseorang apakah dalam
bentuk simbol, tanggapan, ide atau gagasan dan nilai atau pertimbangan.
Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam
belajar, karena sebahagian besar aktivitasnya dalam belajar selalu berhubungan dengan
masalah mengingat dan berfikir dimana kedua hal ini merupakan aktivitas kognitif yang
perlu dikembangkan.
Hal-hal yang termasuk dalam aktivitas kognitif adalah mengingat dan berfikir.
Mengingat merupakan aktivitas kognitif dimana orang menyadari bahwa pengetahuan
berasal dari kesan-kesan yang diperoleh dari masa lampau. Bentuk mengingat yang
penting adalah reproduksi pengetahuan, misalnya ketika seorang anak diminta untuk
menjelaskan kembali suatu pengetahuan atau peritiwa yang telah diperolehnya selama
belajar. Sedangkan pada saat berfikir anak dihadapkan pada obyek-obyek yang diwakili
dengan kesadaran. Jadi tidak dengan langsung berhadapan dengan obyek secara fisik
seperti sedang mengamati sesuatu ketika ia melihat, meraba atau mendengar.
Dalam berfikir obyek hadir dalam bentuk representasi, bentuk-bentuk
representasi yang paling pokok adalah tanggapan, pengertian, atau konsep dan lambang
verbal. Makin berkembang seseorang, makin kayalah anak akan tanggapan-tanggapan.
Hubungan atas tanggapan-tanggapan mulai dipahami manakala hubungan yang satu
dengan yang lain mulai dipahami secara logis. Perkembangan berikutnya anak akan
mampu menentukan hubungan sebab akibat.

Perkembangan Struktur Kognitif

Kognisi sebagai kapasitas kemampuan berfikir dan segala bentuk pengenalan,
digunakan individu untuk melakukan interaksi dengan lingkungannya. Dengan
berfungsinya kognisi mengakibatkan individu memperoleh pengetahuan dan menggunakannya.
Pada prosesnya kognisi mengalami perkembangan ke arah kolektivitas
kemajuan secara berkesinambungan.
Perkembangan struktur kognisi berlangsung menurut urutan yang sama bagi
semua individu. Artinya setiap individu akan mengalami dan melewati setiap tahapan
itu, sekalipun kecepatan perkembangan dari tahapan-tahapan tersebut dilewati secara
relatif dan ditentukan oleh banyak faktor seperti : kematangan psikis, struktur syaraf, dan
lamanya pengalaman yang dilewati pada setiap tahapan perkembangan. Mekanisme
utama yang memungkinkan anak maju dari satu tahap pemungsian kognitif ke tahap
berikutnya oleh Piaget disebut asimilasi, akomodasi dan ekuilibrium.
Asimilasi merupakan proses dimana stimulus baru dari lingkungan diintegrasikan
pada skema yang telah ada. Dengan kata lain, asimilasi merujuk pada usaha individu
untuk menghadapi lingkungan dengan membuatnya cocok ke dalam struktur organisme
itu sendiri yang sudah ada dengan jalan menggabungkannya. Proses ini dapat diartikan
sebagai suatu obyek atau ide baru ditafsirkan sehubungan dengan gagasan atau tindakan
yang telah diperoleh anak.
Asimilasi tidak menghasilkan perkembangan atau skemata, melainkan hanya
menunjang pertumbuhan skemata. Sebagai suatu ilustrasi, kepada seorang anak
diperlihatkan suatu benda yang berbentuk persegi empat sama sisi. Setelah itu
diperlihatkan persegi panjang. Asimilasi terjadi apabila anak menjawab persegi panjang
adalah persegi empat sama sisi. Jadi persegi panjang diasimilasikan dengan persegi
empat sama sisi. Hal ini karena bentuk itu dikenal anak lebih awal sementara persegi
panjang diperoleh kemudian. Jika menyangkut masalah ukuran dari bentuk tersebut
asimilasi tidak akan terjadi karena tidak cocok dengan gagasan yang telah ada. Tetapi
jika persegi empat itu dilihat sebagaimana adanya persegi empat maka hal ini merupakan
proses akomodasi.
Akomodasi merupakan proses yang terjadi apabila berhadapan dengan stimulus
baru, anak mencoba mengasimilasikan stimulus baru itu tetapi tidak dapat dilakukan
karena tidak ada skema yang cocok. Dalam keadaan seperti ini anak akan menciptakan
skema baru atau mengubah skema yang sudah ada sehingga cocok dengan stimulus
tersebut.
Akomodasi dapat dikatakan sebagai proses pembentukan skema baru atau
perubahan skema yang telah ada, seperti contoh di atas dimana persegi empat dilihat
sebagaimana adanya persegi empat.
Akomodasi menghasilkan perubahan atau perkembangan skemata atau struktur
kognitif. Asimilasi dan akomodasi berlangsung terus sepanjang hidup. Jika seseorang
selalu mengasimilasi stimulus tanpa pernah mengakomodasikan, ada kecenderungan ia
memiliki skema yang sangat besar, sehingga ia tidak mampu mendeteksi
perbedaan diantara stimulus yang mirip. Sebaliknya jika seseorang selalu
mengakomodasi stimulus dan tidak pernah mengasimilasikannya, ada kecenderungan ia
tidak pernah dapat mendeteksi perasaan persamaan dari stimulus untuk membuat
generalisasi. Oleh karenanya harus terjadi keseimbangan antara proses asimilasi dan
akomodasi yang dikaitkan sebagai equlibrium.
Berkenaan dengan perkembangan kognitif ini, Abin Syamsuddin (1990)
mengungkapkan bahwa proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif
menurut Piaget berlangsung mengikuti suatu sistem atau prinsip atau teknik
keseimbangan (seeking equlibrium), dengan menggunakan dua cara ialah assimilation
dan accomodation.
Teknik asimilasi digunakan apabila individu memandang bahwa obyek-obyek
atau masalah-masalah baru dapat disesuaikan dengan kerangka berfikir. Sedangkan
teknik akomodasi digunakan apabila individu memandang bahwa obyek-obyek kerangka
berfikirnya yang ada sehingga harus mengubah strukturnya.
Ekuilibrium menunjuk pada relasi antara individu dan sekelilingnya, terutama
sekali pada relasi antara struktur kognitif individu dan struktur sekelilingnya. Di sini ada
keadaan seimbang bila individu tidak lagi perlu mengubah hal-hal dalam kelilingnya
untuk mengadakan asimilasi dan juga tidak harus mengubah dirinya untuk mengadakan
akomodasi dengan hal-hal yang baru.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa perkembangan intelektual atau
perkembangan kognitif dapat dipandang sebagai suatu perubahan dari suatu keadaan
seimbang ke dalam keseimbangan baru. Setiap tahap perkembangan kognitif mempunyai
bentuk keseimbangan tertentu sebagai fungsi dari kemampuan memecahkan masalah
pada tahap itu. Ini berarti penyeimbangan memungkinkan terjadinya transformasi dari
bentuk penalaran sederhana ke bentuk penalaran yang lebih komplek, sampai mencapai
keadaan terakhir yang diwujudkan dengan kematangan berfikir orang dewasa.
Menurut Piaget pertumbuhan mental mengandung dua macam proses yaitu
perkembangan dan belajar. Perkembangan adalah perubahan struktur sedangkan belajar
adalah perubahan isi. Proses perkembangan dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu heriditas,
pengalaman, transmisi sosial dan ekuilibrasi.
Heriditas diyakini Piaget tidak hanya menyediakan fasilitas kepada anak yang
baru lahir untuk menyesuaikan diri dengan dunianya, lebih dari itu heriditas akan
mengatur waktu jalannya perkembangan pada tahun-tahun mendatang. Inilah yang
dikenal dengan faktor kematangan internal. Kematangan mempunyai peranan penting
dalam perkembangan intelektual, akan tetapi faktor ini saja tidak mampu menjelaskan
segala sesuatu tentang perkembangan intelektual.
Pengalaman dengan heriditas fisik merupakan dasar perkembangan struktur
kognitif. Dalam hal ini sering kali disebut sebagai pengalaman fisis dan logika
matematis. Kedua pengalaman ini secara psikologi berbeda. Pengalaman fisis
melibatkan obyek yang kemudian membuat abstraksi dari obyek tersebut. Sedangkan
pengalaman logika matematis merupakan pengalaman dimana diabstraksikan bukan dari
obyek melainkan dari akibat tindakan terhadap obyek (abstraksi reflektif).
Transmisi sosial digunakan untuk mempresentasikan pengaruh budaya terhadap
pola berfikir anak. Penjelasan dari guru, penjelasan orang tua, informasi dari buku,
meniru, merupakan bentuk-bentuk transmisi sosial. Kebudayaan memberikan alat-alat
yang penting bagi perkembangan kognitif, seperti dalam berhitung atau membaca, dapat
menerima transmisi sosial apabila anak ada dalam keadaan mampu menerima informasi.
Untuk menerima informasi itu terlebih dahulu anak harus memiliki struktur kognitif
yang memungkinkan anak dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan informasi
tersebut.
Ekuilibrasi seperti yang telah dikemukakan di atas merupakan suatu keadaan
dimana pada diri setiap individu akan terdapat proses ekuilibrasi yang mengintegrasikan
ketiga faktor tadi, yaitu heriditas, pengalaman dan transmisi sosial. Alasan yang
memperkuat adanya ekuilibrasi yaitu dimana anak secara aktif berinteraksi dengan
lingkungan. Sebagai akibat dari interaksi itu anak berhadapan dengan gangguan atau
kontradiksi, yaitu apabila situasi pada pola penalaran yang lama tidak dapat menanggapi
stimulus. Kontradiksi ini menimbulkan keadaan menjadi tidak seimbang. Dalam keadaan
ini individu secara aktif mengubah pola penalarannya agar dapat mengasimilasikan dan
mengakomodasikan stimulus baru yang disebut ekuilibrasi.
Tahapan Perkembangan Kognitif
Para ahli psikologi perkembangan mengakui bahwa pertumbuhan itu berlangsung
secara terus menerus dengan tidak ada lompatan. Kemajuan kompetensi kognitif
diasumsikan bertahap dan berurutan selama masa kanak-kanak Piaget melukiskan urutan
tersebut ke dalam empat tahap perkembangan yang berbeda secara kualitatif yaitu : (1)
tahap sensori motor, (2) tahap praoperasional, (3) tahap operasional konkrit dan (4) tahap
operasional formal. Dari setiap tahapan itu urutannya tidak berubah-ubah. Semua anak
akan melalui ke empat tahapan tersebut dengan urutan yang sama. Hal ini terjadi karena
masing-masing tahapan dibangun di atas, dan berasal dari pencapaian tahap sebelumnya.
Tetapi sekalipun urutan kemunculan itu tidak berubah-ubah, tidak mustahil adanya
percepatan seseorang untuk melewati tahap-tahap itu secara lebih dini di satu sisi dan
terhambat di sisi lainnya.
Berkaitan dengan itu maka dalam pembahasan perkembangan kognitif
sebagaimana yang dikemukakan Piaget sekaligus diungkap pula beberapa sanggahan atas
urutan dari aspek-aspek kemampuan pada tahapan-tahapan tersebut khususnya yang
berkaitan dengan tahapan praoperasional dan tahapan operasional konkrit.
a. Tahap Sensorimotor (0 - 2 tahun)
Tahap sensorimotor ini ada pada usia antara 0 - 2 tahun, mulai pada masa bayi
ketika ia menggunakan pengindraan dan aktivitas motorik dalam mengenal
lingkungannya. Pada masa ini biasanya bayi keberadaannya masih terikat kepada orang
lain bahkan tidak berdaya, akan tetapi alat-alat inderanya sudah dapat berfungsi.
Tindakannya berawal dari respon refleks, kemudian berkembang membentuk
representasi mental. Anak dapat menirukan tindakan masa lalu orang lain, dan
merancang kesadaran baru untuk memecahkan masalah dengan menggabungkan secara
mental skema dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Dalam periode singkat
antara 18 bulan atau 2 tahun, anak telah mengubah dirinya dari suatu organisme yang
bergantung hampir sepenuhnya kepada refleks dan perlengkapan heriditer lainnya
menjadi pribadi yang cakap dalam berfikir simbolik.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif selama stadium sensorimotor,
intelegensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus
sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan bukan
tindakan-tindakan yang imaginer atau hanya dibayangkan saja, tetapi secara perlahanlahan
melalui pengulangan dan pengalaman konsep obyek permanen lama-lama
terbentuk. Anak mampu menemukan kembali obyek yang disembunyikan.
b. Tahap Praoperasional (2 - 7 tahun)
Dikatakan praoperasional karena pada tahap ini anak belum memahami
pengertian operasional yaitu proses interaksi suatu aktivitas mental, dimana prosesnya
bisa kembali pada titik awal berfikir secara logis. Manipulasi simbol merupakan
karakteristik esensial dari tahapan ini. Hal ini sering dimanefestasikan dalam peniruan
tertunda, tetapi perkembangan bahasanya sudah sangat pesat, kemampuan anak
menggunakan gambar simbolik dalam berfikir, memecahkan masalah, dan aktivitas
bermain kreatif akan meningkat lebih jauh dalam beberapa tahun berikutnya.
Sekalipun demikian, pemikiran pada tahap praoperasional terbatas dalam
beberapa hal penting. Menurut Piaget, pemikiran itu khas bersifat egosentris, anak pada
tahap ini sulit membayangkan bagaimana segala sesuatunya tampak dari perspektif orang
lain.
Berkaitan dengan masalah ini Piaget dikenal dengan eksperimennya melalui Tiga
Gunung yang sering digunakan untuk mempelajari masalah egosentrisme.
Karakteristik lain dari cara berfikir praoperasional yaitu sangat memusat
(centralized). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multi dimentional, maka ia
akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi dan mengabaikan dimensi
lainnya. Pada akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini. Cara
berfikir seperti ini dicontohkan sebagaimana berikut : sebuah gelas tinggi ramping dan
sebuah gelas pendek dan lebar diisi dengan air yang sama banyaknya. Anak ditanya
apakah air dalam dua buah gelas tadi sama banyaknya ?. Anak pada tahap ini
kebanyakan menjawab bahwa ada lebih banyak air dalam gelas yang tinggi ramping tadi
karena gelas ini lebih tinggi dari yang satunya. Jadi anak belum melihat dua dimensi
secara serempak.
Berfikir praoperasional juga tidak dapat dibalik (irreversable). Anak belum
mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan melakukan tindakan tersebut sekali
lagi secara mental dalam arah yang sebaliknya. Dengan demikian bila situasi A beralih
pada situasi B, maka anak hanya memperhatikan situasi A, kemudian B. Ia tidak
memperhatikan perpindahan dari A ke B.
c. Tahap Operasional Konkrit (7 - 11 Tahun)
Tahap operasional konkrit dapat digambarkan pada terjadinya perubahan positif
ciri-ciri negatif tahap preoprasional, seperti dalam cara berfikir egosentris pada tahap
operasional konkrit menjadi berkurang, ditandainya oleh desentrasi yang benar, artinya
anak mampu memperlihatkan lebih dari satu dimensi secara serempak dan juga untuk
menghubungkan dimensi-dimensi itu satu sama lain. Oleh karenanya masalah konservasi
sudah dikuasai dengan baik.
Desentrasi dan konservasi ditunjukkan dalam eksperimen Piaget yang terkenal
mengenai konservasi, yaitu konservasi cairan. Anak diperlihatkan kepada dua gelas
identik, kedua gelas tadi berisikan jumlah air yang sama banyaknya. Setelah anak
mengetahui bahwa kedua gelas berisi air berada dalam jumlah yang sama, si peneliti
menuangkan air dari satu gelas ke dalam gelas yang lebih tinggi dan kurus. Anak
kemudian ditanya, apakah gelas yang lebih tinggi itu berisikan air dalam jumlah yang
sama, lebih banyak atau lebih sedikit dibandingkan dengan gelas yang satunya ?.
anak pada tahap operasional konkrit mengetahui bahwa jumlah cairan tetap sama, bahwa
suatu perubahan dalam satu dimensi yaitu tinggi cairan di dalam gelas dapat diimbangi
dengan perubahan yang sebanding dalam dimensi lain yaitu lebar gelas. Sama halnya ia
dapat mengerti bahwa jumlah tanah liat pada sebuah balok tidak berubah bila bentuknya
diubah.
Dalam eksperimen konservasi jumlah yang tipikal, satu barisan yang terdiri dari 5
kancing dideretkan di atas satu barisan yang juga terdiri dari 5 kancing sehingga kedua
barisan sama panjangnya. Si anak setuju bahwa kedua barisan memiliki jumlah kancing
yang sama. Namun, apabila satu barisan dipendekkan dengan jalan merapatkan jarak
kancing-kancingnya, anak praoperasional mungkin mengatakan bahwa barisan yang
panjang mempunyai kancing lebih banyak. Anak pada tahap operasional konkrit tahu
bahwa penyusunan ulang kancing-kancing tersebut tidak mengubah jumlahnya.
Menurut Piaget, anak pada tahap ini mengerti masalah konservasi karena mereka
dapat melakukan operasi mental yang dapat dibalikan (reversable).
Reversable transformation (transformasi bolak-balik) terjadi dalam dua bentuk
yaitu ; (1) inversion (kebalikan) + A kebalikan dari - B (penjumlahan kebalikan
pengurangan, perkalian kebalikan pembagian), (2) recipocity (timbal balik), A < B
timbal balik dengan B > A (luas permukaan air pada sebuah gelas kompensasi dari tinggi
permukaan air dan tinggi permukaan air kompensasi dari luas permukaan air). Ketika
sebuah obyek mengalami perubahan kuantitasnya tidak berubah. Hal ini oleh Piaget
disebut konservasi.
Seriasi adalah satu lagi karakteristik tahap operasional konkrit yang merupakan
kemampuan menyusun obyek menurut beberapa dimensi seperti berat atau ukuran.
Seriasi mengilustrasikan penangkapan anak akan satu hal dari prinsip logis yang penting
dan disebut transivitas, yang mengatakan bahwa ada hubungan tetap tertentu diantara
kualitas-kualitas obyek. Misalnya, bila A lebih panjang dari B, dan B lebih panjang dari
C, maka A pasti lebih panjang dari C. Anak-anak pada tahap ini tahu keabsahan kaidah
itu sekalipun mereka tidak pernah melihat obyek A, B, dan C. Kompetensi yang oleh
Piaget dinamakan seriasi sangat penting untuk pemahaman hubungan bilangan
khususnya dalam matematik.
Pemahaman lain pada tahap operasional konkrit, dapat menalar serentak
mengenai bagian dan keseluruhan yang dikenal dengan istilah inklusi kelas. Pemahaman
mengenai inklusi kelas ini mengilustrasikan prinsip logis bahwa ada hubungan hirarkis
diantara kategori-kategori.
Apabila anak pada tahap ini dihadapkan kepada delapan permen kuning dan
empat permen coklat, kemudian ditanya, “mana permen yang lebih banyak, permen
kuning atau lebih banyak permen coklat ?”. Anak yang berumur 5 tahun akan
mengatakan “lebih banyak permen kuning”. Jawaban ini menurut Piaget, mencerminkan
ketidakmampuan anak untuk bernalar mengenai bagian atau keseluruhan secara serentak.
Walaupun pada anak-anak ini lebih pesat melampaui anak-anak praoperasional
dalam penalaran, pemecahan masalah dan logika. Pemikiran mereka masih terbatas pada
operasi konkrit. Pada tahap ini anak dapat mengkonservasi kualitas serta dapat
mengurutkan dan mengklasifikasikan obyek secara nyata. Tetapi mereka belum dapat
bernalar mengenai abstraksi, proposisi hipotesis. Jadi mereka mengalami kesulitan untuk
memecahkan masalah secara verbal yang sifatnya abstrak. Pemahaman terakhir ini baru
dicapai pada tahap oprasional formal.
d. Operasional Formal ( 11 - 16 tahun)
Pada tahap operasional formal anak tidak lagi terbatas pada apa yang dilihat atau
didengar ataupun pada masalah yang dekat, tetapi sudah dapat membayangkan masalah
dalam fikiran dan pengembangan hipotesis secara logis. Sebagai contoh, jika A < B dan
B < C, maka A < C. Logika seperti ini tidak dapat dilakukan oleh anak pada tahap
sebelumnya.
Perkembangan lain pada tahap ini ialah kemampuannya untuk berfikir secara
sistematis, dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan secara teratur atau sistematis
untuk memecahkan masalah. Pada tahap ini anak dapat memprediksi berbagai
kemungkinan yang terjadi atas suatu peristiwa. Misalnya ketika mengendarai sebuah
mobil dan tiba-tiba mobil mogok, maka anak akan menduga mungkin bensinnya habis,
businya atau platinanya rusak dan sebab lain yang memungkinkan memberikan dasar
atas pemikiran terjadinya mobil mogok. Perkembangan kognitif pada tahapan ini
mencapai tingkat perkembangan tertinggi dari tahapan yang dijelaskan Piaget.
Tinjauan Perpindahan Berfikir Praoperasional ke Operasional Konkrit
Dari uraian mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif di atas, ada sejumlah
tugas-tugas yang dapat menggambarkan perpindahan dari berfikir praoperasional ke
operasional konkrit. Tugas-tugas itu dapat dipandang sebagai tugas-tugas kriterium,
artinya bila anak dapat menyelesaikan tugasnya maka ia ada dalam stadium operasional
konkrit”. Lebih lanjut digambarkan tugas-tugas yang dimaksudkan adalah sebagai
berikut :
1. mengatur secara serial : Pada tahapan ini bila anak diberi tugas untuk mengatur
beberapa tongkat yang berlainan panjangnya, maka pada anak tahap praoperasional
tidak mampu untuk mengatur menurut panjang dan pendeknya tongkat tersebut. Lain
halnya dengan anak yang sudah berada pada tahap operasional konkrit, ia dapat
melakukan hal seperti itu. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak telah memahami
adanya hubungan tetap tertentu diantara kualitas-kualitas obyek. Berfikir relasional
antara lebih tinggi, lebih pendek pada tahap operasional konkrit telah disadari.
Berfikir relasional adalah ilustrasi lain dari kemampuan untuk memikirkan lebih dari
satu peristiwa secara serentak, karena cara berfikir ini mengisyaratkan perbandingan
dua obyek atau lebih.
2. Klasifikasi : pada tahap praoperasional umur 5 - 7 tahun, anak telah memiliki
kemampuan untuk mengklasifikasi beberapa hal sebagai berikut :
- Semua balok dipisahkan menurut dimensi bentuk atau menurut warnanya secara
tepat. Jadi anak melihat dalam satu dimensi
- Belum mempunyai pengertian akan operasi logis dalam inklusi kelas, artinya
pengertian yang benar mengenai hubungan antara bagian-bagian daripada
keseluruhan, antara keseluruhan dan bagian-bagian, dan di antara bagian dan
bagian. Ketidakmampuan pada umur 5 - 7 tahun untuk mengerti hal ini
diterangkan Piaget dengan hipotesa bahwa anak belum dapat menilai dua macam
dimensi yang berbeda (di sini keseluruhan dan bagian) dalam satu situasi
pengamatan yang sama.
- Perolehan tentang inklusi kelas pada tahap operasional konkrit dicapai dengan
baik antara usia 8 tahun.
3. Konservasi : Kemampuan dalam konservasi jumlah, panjang, substansi/isi, berat,
banyak air dan volume air dan luas belum dicapai pada tahap preoprasional, dan baru
dipahami pada tahap operasional konkrit.
4. berfikir egosentris : Pada tahap preoprasional dikatakan cenderung bersifat
egosentris, dimana anak belum mampu melihat sesuatu dari sudut perspektif orang
lain. Pembuktian ini dilakukan Piaget melalui tes tiga gunung. Pada tahap
operasional konkrit anak sudah mulai melepaskan dan dapat melihat sebagaimana
adanya yang dilihat orang lain. Pernyataan ini telah banyak dibantah orang, seperti
yang dibuktikan Margaret Donalson (1978) dengan menggunakan alat papan
menyilang dan tiga geometri (tiga dimensi) sebagai modifikasi dari tiga tes tiga
gunung.
Bantahan-bantahan seperti yang dipaparkan di atas ternyata dalam hal-hal tertentu
anak pada tahapan preoprasional dapat melakukan tugas sebagaimana yang dilakukan
anak pada tahap operasional konkrit. Jika hal ini benar, maka ada indikasi lain yang
memungkinkan terjadinya pergeseran perkembangan kognitif pada anak. Indikasi ke arah
itu memang sangat memungkinkan karena kondisi lingkungan dan pengalaman anak saat
ini sangat berbeda dari kondisi lingkungan saat itu.
Jika kita melihat keberadaan lingkungan, seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dengan sarana dan prasarananya yang lengkap serta intervensi pendidikan secara dini dengan waktu belajar yang lebih banyak memungkinkan untuk mendorong anak lebih ke arah berfikir yang lebih kritis. Para ahli pendidikan yakin, bahwa lingkungan yang baik akan memberikan konstribusi yang baik pula terhadap perkembangan belajar anak.

Referensi

Hadis, Fawzia Aswin, (tt). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Helms D.B. & Turner, J.S. (1983). Exploring Child Behavior. New York : Holt
Rinehartand Winston.
Hurlock, Elizabeth B. (1978). Child Development. Sixth Edition. New York : Mc. Graw
Hill. Inc.
Seifert, Kelvin L. & Hoffnung, Robert J. (1991). Child and Adolescent Development,
Second Edition. Boston : Houghton Mifflin Company.
Vasta, Ross. Haith, Marshall M & Miller, Scott A. (1992). Child Psychology, The
Modern Science. Canada : John Wiley & Sons. Inc.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda

Google Groups
Pencariilmu
Kunjungi grup ini
Akses Internet Murah
3 Kunci + Rumus Sukses Bisnis di Internet
Kami promosikan usaha anda di 115 situs iklan baris
Punya web/blog bisa dapat duit kayak ADSENSE
VCD Lesson Musik
Punya web/blog bisa dapat duit kayak ADSENSE

Get logo Here


Kampanyekan Anti Narkoba tempatkan logo berikut di blog anda


Get logo Here

Your Ad Here